Pengertian cinta kepada Allah & cinta kepada RasulNya telah disalah-artikan oleh sebagian ummat. Mereka mengartikan dan atau menganalogikan rasa cinta tersebut sebagaimana cinta antar manusia, sehingga timbul ucapan dan prilaku yang tidak patut dan tidak layak.
Sering kita menemukan bahasa, ucapan dan tindakan yang berasal dari kaum Sufi yang secara berlebihan dalam menyatakan rasa cinta kepada Allah dengan ucapan yang tidak patut, bahkan cenderung kurang ajar. Misalnya "...semalaman aku bergumul dengan Allah bak seorang kekasih yang mencumbui pasangannya... begitu mesra dan dengan gairah yang berkobar-kobar...". Dan masih banyak lagi ungkapan2 sejenis yang cenderung menunjukkan betapa mereka sungguh tidak mengerti arti "Cinta kepada Allah & Cinta kepada Rasul"
Apa sih sebenarnya arti cinta kepada Allah dan RasulNya..?. Sahabatku, pengertian cinta Allah dan Rasul adalah TAQWA, yakni perasaan takut akan azab yang akan menimpa dan patuh kepada perintah serta Tuntunan Allah dan RasulNYA.
Kalaupun mau dianalogikan kedalam rasa cinta kasih antar sesama manusia dan atau kepada sesuatu, bisa diartikan bahwa kita cinta akan seseorang/sesuatu tersebut, karena kita takut ditinggalkan atau kehilangan dan akan selalu patuh atas segala permintaan dan atau kebutuhannya. Begitulah sepatutnya kita beranalogi.
Cinta kepada Allah bukan berarti terus2an berdzikir hingga beribu-ribu kali, terus-terusan melakukan ritual ibadah sampai-sampai melupakan kewajiban lain yang harus dia lakukan. Apalagi berdzikir dengan lafadz-lafadz yang tidak dicontohkan dan tidak berasal dari Rasulullah SAW. Ingatlah sahabatku, segala sesuatu yang berlebihan, pasti tidak baik, apalagi benar.Inti ajaran Islam adalah keseimbangan antara kehidupan Dunia dan Akherat.
Demikian juga cinta kepada Rasulullah SAW.. Mereka secara berlebihan menyanjungnya dengan memberikan gelar atau sebutan yang kadang setara atau lebih tinggi dengan gelar yang mereka sebutkan kepada sahabat2 beliau. Ingatlah wahai sahabatku, Rasulullah tidak meminta bahkan melarang kita untuk mengkultus individukan beliau, apalagi memvisualkan beliau, seperti yang dilansir beberapa media luar negeri. Sebagaimana tercantum didalam surah An Nuur ayat 63 yang artinya :
"Janganlah kamu jadikan panggilan Rasul diantara kamu seperti panggilan sebahagian kamu kepada sebahagian (yang lain). Sesungguhnya Allah Telah mengetahui orang-orang yang berangsur- angsur pergi di antara kamu dengan berlindung (kepada kawannya), Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah-Nya takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa azab yang pedih.".
Sebagai ummat Islam, kita tidak cukup hanya menjadi manusia "Baik", tetapi juga harus jadi manusia yang "Benar". Sebab "Baik" itu sifatnya relatif, tetapi "Benar" adalah Mutlak. Jadi, kita harus menjalan-kan keduanya, yakni berbuat yang BAIK dengan BENAR. Sebagaimana dalam surah Al‘Ashr, ayat 1 s/d 3 yang artinya;
1. Demi masa.
2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian,
3. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.








