Cursors .: Cinta Allah
Assalamu;alaikum ;) Welcome To My Blog , Happy Reading GUYS ! This blog is about " Cinta Allah dan Cinta Rasul " Semoga blog ini bermanfaat bagi kalian :) Dan selamatulang tahun angke-20 untuk yayasan As-Shofa Pekanbaru , semoga makin sukses untuk kedepannya. Dan maju dalammendidik siswa dan siswinya menjadi hamba Allah yang selalu taat kepada-Nya. Amin :) From : Smps Ypit Mutiara-Duri

Bismillah :)

bismillahirohmanirohim Pictures, Images and Photos

Cinta Allah


HAI ! Halaman ini berisi tentang SEMUA CINTA ALLAH ! Kita bisa lihat hal hal yang mendatangkan Cinta Allah, Cara mengukur Cinta kita Kepada Allah, ini perlu. PERLU DONG ;) Walaupun sebagiannya copy dan paste dari blog orang, tapi aku hanya ingin berbagi ini kepada kalian. Kalau ada fasilitas yang lebih besar untuk menyebarkan islam apa salahnyakan? Oke. Happy Reading Guys ;)

 Mengapa Perlu Cinta Dan Takut Kepada Allah ?


ALLAH segala-galanya. ALLAH itu penyelamat, pelindung, pendidik, pemberi hidayah, pemberi rizki dan kawan setia kita. Kalau kita paham dan hayati itu, akan datang kasih sayang. Cinta kepada selain ALLAH tidak salah tetapi jangan mengatasi cinta kepada ALLAH. Tidak salah cinta kepada isteri, orang tua dan anak, tetapi jangan mengatasi cinta kepada ALLAH. ALLAH mewajibkan kita mencintai- Nya.

Mengapa kita disuruh cinta kepada ALLAH sedangkan ALLAH Maha Sempurna? Apakah ALLAH suruh kita mencintai- Nya untuk meninggikan derajatNya? ALLAH sudah sempurna. Ke-Mahasempurnaan ALLAH kekal dan azali. Tidak berkurang dan tidak bertambah. Cinta kita bukan untuk meninggikanNya. Kalau kita tidak cinta, tidak puji, tidak sembah, atau kita caci maki, ALLAH tidak tergugat dan tidak cacat. Berbeda dengan manusia. Manusia bila dihina dia cacat bila dipuji dia terangkat.

ALLAH yang menjadikan manusia, maka ALLAH tahu apa keperluan manusia lahir dan batin (rohaniah). ALLAH jadikan sebab-sebabnya supaya keperluan itu tercukupi. ALLAH mewajibkan kita cinta kepada ALLAH, di situlah datang rahmat dari ALLAH. Sebab manusia yang cinta kepada ALLAH, akan otomatis cinta kepada makhluk ALLAH terutamanya sesama manusia.

Artinya hamba ALLAH yang mencintai ALLAH niscaya perikemanusiaannya sangat tinggi. Dia pengasih pada orang lain, bertimbang rasa, kasihan, tidak bisa mendengar orang susah, sangat mengutamakan orang, sangat bekerjasama, suka menghibur orang, suka memaafkan dan meminta maaf dan sebagainya. Ini keperluan manusia. ALLAH tidak perlu cinta manusia. Kalau manusia tidak cinta ALLAH maka hilanglah perikemanusiaan seperti terjadi hari ini. Kalau sudah tidak cinta ALLAH, hidup individualistis, bagaimana hendak bekerja sama dengan orang lain? Ini yang terjadi. Bukan diri saja yang susah, masyarakat pun susah karena perikemanusiaan sudah tidak ada. Cinta sesama manusia sudah tidak ada karena terputus cinta dengan ALLAH.

ALLAH tahu rahasia ini, sebab itu ALLAH suruh cinta kepada- Nya karena efeknya pada manusia bukan pada ALLAH. Efek itulah yang menguntungkan manusia. ALLAH tahu bila cinta kepada ALLAH, terjadilah cinta sesama manusia. Di situlah untungnya manusia karena cinta-mencintai datang kasih sayang, bekerja sama, rasa bersama dan di situlah kebahagiaan.

ALLAH juga memerintahkan manusia untuk takut kepada-Nya. Mengapa demikian? Apakah ALLAH memerlukan takut manusia ini? Maha Suci ALLAH dari memerlukannya.

Bila manusia paham dan menghayati kehebatan, ke-Mahakuasaan, kegagahan, dan keadilan ALLAH maka dia akan takut kepada ALLAH. Jika senantiasa merasa diawasi ALLAH, maka dia tidak akan be-rani melanggar hukumhukum ALLAH dan peraturan manusia yang tidak bertentangan dengan aturan ALLAH. Di mana pun dan kapan pun. Dia tidak akan sanggup menyakiti seluruh makhluk ciptaan ALLAH. Dia tidak akan sanggup berbuat mungkar dan maksiat, baik yang lahir maupun batin, karena dia tahu keadilan ALLAH dalam membalas setiap perbuatan mungkar dan maksiat.



10 Hal Yang Mendatangkan Cinta Allah


                                            


Pertama, membaca Al Qur’an dengan merenungi dan memahami maknanya. Hal ini bisa dilakukan sebagaimana seseorang memahami sebuah buku yaitu dia menghafal dan harus mendapat penjelasan terhadap isi buku tersebut. Ini semua dilakukan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh si penulis buku. [Maka begitu pula yang dapat dilakukan terhadap Al Qur’an, pen]
Kedua, mendekatkan diri kepada Allah dengan mengerjakan ibadah yang sunnah, setelah mengerjakan ibadah yang wajib.  Dengan inilah seseorang akan mencapai tingkat yang lebih mulia yaitu menjadi orang yang mendapatkan kecintaan Allah dan bukan hanya sekedar menjadi seorang pecinta.
Ketiga, terus-menerus mengingat Allah dalam setiap keadaan, baik dengan hati dan lisan atau dengan amalan dan keadaan dirinya. Ingatlah, kecintaan pada Allah akan diperoleh sekadar dengan keadaan dzikir kepada-Nya.
Keempat, lebih mendahulukan kecintaan pada Allah daripada kecintaan pada dirinya sendiri ketika dia dikuasai hawa nafsunya. Begitu pula dia selalu ingin meningkatkan kecintaan kepada-Nya, walaupun harus menempuh berbagai kesulitan.
Kelima, merenungi, memperhatikan dan mengenal kebesaran nama dan sifat Allah. Begitu pula hatinya selalu berusaha memikirkan nama dan sifat Allah tersebut berulang kali. Barangsiapa mengenal Allah dengan benar melalui nama, sifat dan perbuatan-Nya, maka dia pasti mencintai Allah. Oleh karena itu, mu’athilah,  fir’auniyah, jahmiyah (yang kesemuanya keliru dalam memahami nama dan sifat Allah), jalan mereka dalam mengenal Allah telah terputus (karena mereka menolak nama dan sifat Allah tersebut).
Keenam, memperhatikan kebaikan, nikmat dan karunia Allah yang telah Dia berikan kepada kita, baik nikmat lahir maupun batin. Inilah faktor yang mendorong untuk mencintai-Nya.
Ketujuh, -inilah yang begitu istimewa- yaitu menghadirkan hati secara keseluruhan tatkala melakukan ketaatan kepada Allah dengan merenungkan makna yang terkandung di dalamnya. 
Kedelapan, menyendiri dengan Allah di saat Allah turun ke langit dunia pada sepertiga malam yang terakhir untuk beribadah dan bermunajat kepada-Nya serta membaca kalam-Nya (Al Qur’an). Kemudian mengakhirinya dengan istighfar dan taubat kepada-Nya.
Kesembilan, duduk bersama orang-orang yang mencintai Allah dan bersama para shidiqin. Kemudian memetik perkataan mereka yang seperti buah yang begitu nikmat. Kemudian  dia pun tidaklah mengeluarkan kata-kata kecuali apabila jelas maslahatnya dan diketahui bahwa dengan perkataan tersebut akan menambah kemanfaatan baginya dan juga bagi orang lain.
Kesepuluh, menjauhi segala sebab yang dapat mengahalangi antara dirinya dan Allah Ta’ala.
Semoga kita senantiasa mendapatkan kecintaan Allah, itulah yang seharusnya dicari setiap hamba dalam setiap detak jantung dan setiap nafasnya. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa kunci untuk mendapatkan itu semua adalah dengan mempersiapkan jiwa (hati) dan membuka mata hati. 


Tanda-Tanda Mencintai Allah



Ramai orang berkata ia Cinta kepada Allah Subhanahuwa Taala.  Katanya itu hendaklah diuji

Ujian pertama ialah;  Dia hendaklah tidak benci kepada mati kerana tidak ada orang yang enggan bertemu dengan sahabatnya.  Nabi Muhammad saw bersabda;
"Siapa yang ingin melihat Allah,  Allah ingin melihat dia."
Memang benar ada juga orang yang ikhlas cintanya kepada Allah berasa gentar apabila mengingat kedatangan mati sebelum ia siap membuat persediaan untuk pulang ke akhirat,  tetapi jika betul-betul ikhlas adia akan bertambah rajin berusaha lagi untuk membuat persediaan itu.

Ujian kedua ialah ia mestilah bersedia mengorbankan kehendaknya untuk menurut kehendak Allah dan sedaya upaya menghampirkan diri kepada Allah dan benci kepada apa sahaja yang menjauhkan dirinya dengan Allah.  Dosa yang dilakukan oleh seseorang itu bukanlah bukti ia tidak cinta kepada Allah langsung tetapi itu membuktikan yang ia tidak menyintai Allah sepenuh jiwa raganya.  Fudhoil bin Iyadh seorang wali Allah berkata kepada seorang lelaki;
"Jika sesiapa bertanya kepada mu samada kamu cinta kepada Allah,  hendaklah kamu diam kerana jika kamu kata:  "Saya tidak cinta kepadaNya",  maka kamu kafir dan jika kamu berkata,  "Saya cinta",  maka perbuatan kamu berlawanan dengan katamu."

Ujian yang ketiga ialah ingat kepada Allah itu mestilah sentiasa ada dalam hati manusia itu tanpa ditekan atau diusahakan benar,  kerana apa yang kita cinta itu mestilah sentiasa kita ingat.  Sekiranya cinta itu sempurna,  ia tidak akan lupa yang dicintainya itu.  Ada juga kemungkinan bahawa sementara cinta kepada Allah itu tidak mengambil tempat yang utama dalam hati seseorang itu,  maka cinta kepada menyintai Allah itu mungkin mengambil tempat jua,  kerana cinta itu satu perkara dan cinta kepada cinta itu adalah seperkara lain pula.

Ujian keempat kemudian menunjukkan adanya cinta kepada Allah ialah bahawa seseorang itu cinta kepada Al-Quran,  iaitu Kalam Allah,  dan cinta kepada Muhammad iaitu Rasul Allah.  Jika cintanya benar-benar kuat,  ia akan cinta kepada semua orang kerana semua manusia itu adalah hamba Allah.  Bahkan cintanya meliputi semua makhluk,  kerana orang yang kasih atau cinta kepada seseorang itu tentulah kasih pula kepada kerja-kerja yang dibuat oleh kekasihnya itu dan cintanya juga kepada tulisan atau karangannya.

Ujian kelima ialah ia suka duduk bersendirian untuk maksud beribadat dan ia suka malam itu lekas datang agar dapat berbicara dengan rakan atau sahabatnya tanpa ada yang menggangu.  Jika ia suka berbual-bual di siang hari dan tidur di malam hari maka itu menunjukkan cintanya tidak sempurna.  Allah berfirman kepada Nabi Daud,
"Janganlah terlampau karib dengan manusia,  kerana ada dua jenis manusia tersingkir dari MajlisKu:  iaitu mereka yang bertungkus mencari ganjaran dan menjadi pemalas apabila mereka mendapat ganjaran itu;  dan mereka yang mementingkan diri mereka sendiri lalu melampaui aku.  Tanda tidak redhanya aku ialah aku biarkan mereka begitu sahaja."
Pada hakikatnya,  jika cinta kepada Allah itu benar-benar mengambil tempat seluruhnya didalam hati seseorang itu,  maka cintanya kepada yang  lain itu tidak akan dapat mengambil tempat langsung ke dalam hati itu.  Seorang dari Bani Israel telah menjadi kebiasaan sembahyang di malam hari.
Tetapi apabila melihat burung bernyanyian di sepohon pokok dengan merdu sekali,  dia pun sembahyang di bawah pokok itu supaya dapat menikmati nyanyian burung itu.  Allah menyuruh Nabi Daud pergi berjumpa dia dan berkata,
"Engkau telah mencampurkan cinta kepada nyanyian burung dengan cinta kepadaKu,  Martabat engkau di kalangan Auliya' Allah telah diturunkan,"
Sebaliknya ada pula orang yang terlalu cinta kepada Allah, suatu hari sedang ia melakukan ibadatnya kepada Allah rumahnya telah terbakar,  tetapi ia tidak nampak dan sedar rumahnya terbakar.

Yang keenam ialah ibadatnya menjadi senang sekali.  Seorang Wali Allah ada berkata,
"Dalam tiga puluh tahun  yang pertama saya melakukan sembahyang malam dengan susah payah sekali,  tetapi tiga puluh yang kedua sembahyang itu menjadi seronok dan lazat pula kepada saya."  Apabila cinta kepada Allah itu sempuna,  maka tidak ada kesoronokan yang setandimg dngan keseronokan ibadat.

Yang ketujuh ialah orang yang cinta kepada Allah itu akan cinta kepada mereka yang taat kepada Allah dan mereka benci kepada orang-orang kafir dan orang-orang yang derhaka kepada Allah.  Al-Quran mnyatakan "mereka itu bersikap kasar kepada orang-orang kafir dan berkasih sayang sesama mereka sendiri."  Suatu masa,  Nabi bertanya kepada Allah,  "Wahai Tuhan,  siapakah kekasihmu?" Terdengarlah jawapan,
"Siapa yang berpegang teguh kepadaKu seperti bayi dengan ibunya,  mengmbil perlindungan dengan MengingatiKu seperti burung mencari perlindungan disarangnya,  dan yang marah melihat dosa seperti singa yang marah yang tidak takut kepada apa dan siapa pun."


Cara Mengukur Rasa Cinta Kita Kepada Allah





Nah, sekarang bagaimana cara mengukur rasa cinta seorang hamba kepada Khalik-Nya. Ada beberapa indikator yang bisa dijadikan pegangan, yaitu:

1. Rindu bertemu dengan Allah

“Barangsiapa yang merindukan bertemu dengan Allah, maka Allah pun merindukan bertemu dengannya.” (H.R. Ahmad, Tirmudzi, Nasa’i)

2. Merasa nikmat berkhalwat (munajat/komunikasi dengan Allah)

Shalat itu menjadi penyejuk hati.” (H.R. Ahmad, Nasa’i, Hakim)
Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya, sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Seorang pun tidak mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka yaitu (bermacam-macam nikmat) yang menyedapkan pandangan mata sebagai balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Q.S. As-Sajdah 16-17

3. Selalu sabar dalam mengarungi kehidupan (tangisan-ujian-kefanaan)
Apa yang di sisimu akan lenyap, dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal. Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” Q.S. An-Nahl 16: 96

· Sabar menghadapi nafsu syahwat, seperti Nabi Yusuf a.s.
· Sabar menghadapi istri, seperti Nabi Nuh a.s.
· Sabar menghadapi suami seperti Asyiah istri Fir’aun
· Sabar menghadapi penyakit, seperti Nabi Ayyub a.s.
· Sabar menghadapi penguasa zalim, seperti Nabi Ibrahim a.s. menghadapi Namrudz
· Sabar menghadapi anak-anak yang tidak saleh, seperti Nabi Ya’qub a.s.
· Sabar menghadapi umat yang neko-neko, seperti seperti Nabi Musa a.s.
· Sabar menghadapi fitnah, seperti Maryam
· Sabar menghadapi tantangan dakwah, seperti Nabi Muhammad saw.

Bersabarlah (hai Muhammad) dan tiadalah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap (kekafiran) mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.S. An-Nahl 16: 127-128)

4. Mengutamakan apa yang dicintai Allah dari segala sesuatu yang dicintainya

“Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (Q.S. At-Taubah 9: 24)

Dan di antara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman sangat cinta kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat dzalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (Q.S. Al Baqarah 2: 165)

5. Selalu mengingatnya/selalu hadir dalam setiap aktivitas kita bahwa hanya Allah segala-galanya

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung.” (Q.S. Al Anfal 8: 45)

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (Q.S. Al Anfal 8: 2-3)

6. Mengikuti apa yang dicontohkan nabi/rasul

“Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu." Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” Q.S. Ali Imran 3: 31

7. Semangat untuk membaca ayat-ayat-Nya

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal.” Q.S. Al Anfal 8: 2

8. Gemar bertaubat/minta ampun karena takut ditinggalkan

“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertobat, masukilah surga itu dengan aman, itulah hari kekekalan. Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” Q.S. Qaaf 50: 31-35